Posted by : Pathurroni
12 May 2014
MAKALAH
TEORI-TEORI SOSIAL
“TEORI INTERAKSI SIMBOLIK GEORGE HERBERT
MEAD”
DI SUSUN OLEH KELOMPOK IV:
ARI ALFIAN (E1B113010)
MURNIATI (E1B113048)
ROSITA (E1B113062)
WAHYUDI (E1B113074)
YUNI ANDRIANI (E1B113O78)
KELAS:II B
PPKn REGULER SORE
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2014/2015
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Tuhan yang maha esa yang telah menciptakan
makhluk-Nya dengan begitu sempurna.Yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Teori Interaksi
Simbolik Oleh George Herbert Mead” dapat terselesaikan tepat pada
waktunya.Ucapan terimakasih penulis hanturkan kepada dosen pembimbing mata
kuliah Teori-Teori Sosial yaitu bapak DR.SYAFRUDDIN,M.S. yang dengan sabar membantu dan membimbing penulis
untuk menyusun makalah ini.
Dalam makalah ini akan membahas tentangteori
simbolik yang ada di dalam realita social.Semoga makalah ini bermanfaat untuk
kita semua khusus nya untuk menambah khasanah pengetahuan dan wawasan kita
terhadap aspek teori social yang telah di kemukakan oleh para ahlinya.Penulis
sadar bahwa terdapat beberapa kekeliruan dan kekurangan dalam makalah ini,oleh
karena itu penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya.Karena penulis hanyalah
manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.
Sabtu,19
April 2014
Penulis
DAFTAR ISI
JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I: PENDAHULUAN
1.Historisasi (Konteks Sosial)
2.Tokoh-Tokoh Penggagas
BAB II: ASUMSI-ASUMSI DASAR TEORI
A.
Pembahasan Teori Interaksi Simbolik
B.
Subtansi Perbincangan Interaksi Simbolik
C.
Interaksi Simbolik Dalam Realita Sosial
D.
Manusia dan Makna Dalam Perspektif Interaksi Simbolik
E.
Metodologi Yang Digunakan Dalam Interaksi Simbolik
BAB III: APLIKASI TEORI
BAB IV: PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran dan Kritikan
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. HISTORISASI (konteks sosial)
Interaksi
simbolik merupakan salah satu prespektif teori yang baru muncul setelah adanya
teori aksi (action theory) yang dipelopori dan dikembangkan oleh Max Weber.
Teori interaksi simbolik berkembang pertama kali di Universitas Chicago dan
dikenal dengan mahzab Chicago tokoh utama dari teori ini berasal dari berbagai
Universitas di luar Chicago. Diantaranya John Dewey dan C. H Cooley, filsuf
yang semula mengembangkan teori interaksi simbolik di universitas Michigan
kemudian pindah ke Chicago dan banyak memberi pengaruh kepada W. I Thomas dan
George Herbert Mead.
Sebagaimana
kita ketahui konsep itu muncul tatkala Mead mengajar psikologi sosial di
Chicago sekitar tahun 1916-1928. Waktu itu dunia sedang dilanda perang besar
antara Jerman bersama Austria melawan Perancis, Inggris dan negara-negara
sekutu, termasuk Amerika Serikat. Setelah selesai Perang Dunia
Pertama, Amerika Serikat mengalami depresi ekonomi yang sangat berat.
Pada saat itu di Amerika Serikat banyak terjadi persoalan sosial. Dari masalah
pengangguran, tingginya kriminalitas, prostitusi, munculnya kasus-kasus
perceraian di masyarakat, hingga banyaknya orang yang mengidap depresi dan
persoalan sosial lain yang mengidab masyarakat urban yang sekulair. Itulah
problema masyarakat modern yang menjadi perhatian ilmuwan social pada masa itu.
Keadaan
itu nampaknya mendorong Mead mengamati keseharian kehidupan manusia,
terutama mengenai bagaimana individu melakukan interaksi. Kemudian
mengembangkan teori Psikologi sosial. Pada dasarnya dia percaya bahwa ilmu
pengetahuan bisa memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial. Untuk
itu selain dia memformulasikan pemikirannya dalam teori interaksi simbolik,
keseharian Mead juga aktif dalam kegiatan reformasi sosial. Dia terlibat
kegiatan pengumpulan dana yang berkenaan dengan kebijakan di bidang pemukiman
sosial di Universitas Chicago. Kondisi eksternal semacam itulah yang menjadi
setting sosial ketika Mead menghasilkan pemikiran- pemikirannya. Karena itu
tidaklah mengherankan jika kajian tentang Mind, Mead
melihat mind secara pragmatis. Yakni mind atau pikiran
melibatkan proses berpikir yang mengarah pada penyelesaian masalah. Saat itu
Mead berasumsi, dunia nyata penuh dengan masalah (sesuai dengan keadaan saat
itu), dan fungsi pikiranlah untuk mencoba menyelesaikan masalah dan
memungkinkan orang lebih efektif dalam kehidupan.
Begitu
pula dalam membahas konsep The Self, George Herbert Mead senantiasa memperhitungkan
faktor struktural, yaitu society. Karena pada dasarnya menurut pengamatan
Mead konsep diri (the self) yang dia sebut sebagai “I” menentukan
kehendak, keinginan, termasuk ambisi-ambisi dari mahkluk yang namanya manusia.
Namun disisi lain diri manusia juga memiliki konsepsi “Me”, yang sangat
memperhitungkan keadaan sekelilingnya. “Me” senantiasa dipengaruhi oleh
interaksi internal yang dikaitkan dengan keadaan masyarakat. Itulah struktur
sosial yang berpengaruh terhadap konsepsi the self.
B. TOKOH-TOKOH PENGGAGAS
Mead
lahir di South Hatley Massachusetts, 27 Februari 1863. Ia merupakan anak kedua
dari profesor Hiram Mead dari Obelin Theological Seminary. Mead
mendapatkan pendidikan terutama di bidang filsafat dan aplikasinya terhadap
psikologi sosial. Awalnya ia belajar di perguruan dimana ayahnya bekerja,
Oberlin College, hingga mendapatkan sarjana muda pada tahun 1883. Mead dan
teman dekatnya, Henry Northrup Castle, menjadi murid yang bersemangat
mempelajari sastra, puisi, dan sejarah. Saat itu, Mead amat tertarik
dengan karangan-karangan, Shelley, Carlyle, Shakespeare, Keats, dan Milton.
Beberapa tahun kemudian Mead menjadi guru Sekolah Dasar, tapi hanya berlangsung
selama empat bulan. Kemudian ia menjadi mantri ukur di perusahaan
KA, di Wisconsin Central Rail Road Company, sembari memberikan les prifat.
Tahun
1887 ia melanjutkan kuliah di Harvard, hingga memperoleh gelar Master di bidang
filsafat. Di musim gugur 1888, Mead, mengikuti temannya Henry Nortrup ke
Leipzig Jerman untuk menempuh program Ph.D dalam bidang philosophy dan
physiological psychology. Selama tahun akademik 1888-1889 di University of
Leipzig, Mead tertarik pada teori Darwinisme dan belajar kepada Wilhelm Wundt
dan G. Stanley Hall (dua orang penemu utama experimental psychology). Atas
rekomendasi Hall, Mead pindah ke University of Berlin pada tahun 1889.Disitulah
dia kemudian konsentrasi mempelajari teori ekonomi dan psikologi sosial.
Sayangnya
Mead tidak pernah menyelesaikan gelar doktornya. Tahun 1891 ia
ditawari mengajar di Universitas Michigan. Tahun 1894 atas undangan John Dewey,
ia diajak bergabung mengajar di Jurusan Filsafat Universitas Chicago. Di
Chicago inilah Mead bertahan hingga akhir hayatnya. Saat itu Mead dan
Dewey menjadi teman akrab yang sering saling bertukar pikiran. Bahkan
dalam derajad tertentu kedua teoritisi ini memiliki kemiripian dalam
perspektif filosofi mereka. Hanya saja John Dewey lebih berkonsentrasi
pada filsafat dan pendidikan, sedangkan Herbert Mead lebih banyak bekerja untuk
sumbangan pemikirannya pada isu-isu dasar dalam psikologi sosial dan sosiologi.
Mead
menikah dengan Helen Castle di Berlin pada bulan Oktober, 1891. Sebelumnya
kakak Helen, Henry Northrup Castle, yang merupakan teman akrab Mead menikah
terlebih dahulu juga di Berlin dengan Frieda Stechner dari Leipzig. Kemudian
Henry and dan pasangannya kembali pindah ke Cambridge, Massachusetts, dimana
Henry melanjutkan sekolahnya di Jurusan Hukum di Harvard University. George
Herbert Mead punya anak satu satunya yang bernama Henry Castle Albert Mead,
yang lahir di Ann Arbor pada tahun 1892. Anak Mead tersebut setelah dewasa
menjadi seorang psikiater.
Mead
adalah seorang pengajar yang baik, namun bukan seorang penulis yang baik,
karenanya dia tidak pernah menyelesaikan sebuah penulisan buku. Kesulitannya
menulis itu pernah diucapkannya, “Saya sangat tertekan dengan ketidakmampuan
saya menuliskan sesuatu yang saya inginkan.” (Mead, 1993:xii ). Sisi kelemahan
Mead yang lain, Ia juga tidak pernah lulus doktor, namun murid muridnya
amat mengaguminya. Para muridnya mengakui bahwa setiap kuliah prof Mead, isinya
selalu menarik, dan disampaikan secara mengalir. Salah satu muridnya, Herbert
Blumer, pada tahun 1937 memberi julukan pemikiran Mead itu sebagai teori
Interaksionisme Simbolik.
BAB II
ASUMSI-ASUMSI DASAR TEORI
A. Lingkup Pembahasan Teori Interaksi Simbolik
Menurut
Mead, manusia mempunyai sejumlah kemungkinan tindakan dan pemikiranya sebelum
ia memulai tindakan yang sebenarnya dengan melalui pertimbangan. Karena itu,
dalam tindakan manusia terdapat suatu proses mental yang tertutup yang
mendahului proses tindakan yang sesungguhnya.
Berpikir
menurut Mead adalah suatu proses individu berinteraksi dengan dirinya sendiri
dengan memilih dan menggunakan simbol-simbol yang bermakna. Melaui proses
interaksi dengan dirinya sendiri itu, individu memilih mana diantara stimulus
yang tertuju padanya akan ditanggapinya. Dengan demikian, individu tidak secara
langsung menanggapi stimulus, tetapi terlebih dahulu memilih dan kemudian
memutuskan stimulus yang akan ditanggapinya.
Simbol
atau tanda yang diberikan oleh manusia dalam melakukan interaksi mempunyai
makna-makna tertentu , sehingga dapat menimbulkan komunikasi. Menurut Mead, komunikasi secara murni baru
terjadi bila masing-masing pihak tidak saja memberikan makna pada perilaku
mereka sendiri, tetapi memahami atau berusaha memahami makna yang diberikan
oleh pihak lain. Dalam hubungan ini, Habermas mengemukakan dua kecendrungan fungsional dalam argument bahasa
dan komunikasi serta hubungan dengan perkembangan manusia. Pertama, bahwa
manusia dapat mengarahkan orientasi perilaku mereka pada konsekuensi-konsekuensi
yang paling positif . Kedua, sebagai kenyataan bahwa manusia terlibat dalam
interaksi makna yang kompleks dengan orang yang lain, dapat memaksa mereka
untuk cepat berinteraksi dengan apa yang diinginkankan orang lain.
Pada
awal perkembangannya, interaksi simbolik lebih menekankan studinya tentang
perilaku manusia pada hubungan interpersonal, bukan pada keseluruhan kelompok
atau masyarakat. Proporsi paling mendasar dari interaksi simbolik adalah
perilaku dan interaksi manusia itu dapat dibedakan, karena ditampilkan lewat
symbol dan maknanya. Mencari makna dibalik yang sensual menjadi penting didalam
interaksi simbolis. Secara umum, ada enam proporsi yang dipakai dalam konsep
interaksi simbolik, yaitu;
1. Perilaku
manusia mempunyai makna dibalik yang menggejala;
2. Pemaknaan
manusia perlu dicari sumber pada ineraksi social manusia;
3. Masyarakat
merupakan proses yang berkembang holistic, tak terpisah, tidak linear, tidak
terduga;
4. Perilaku
manusia itu berlaku berdasarkan berdasar
penafsiran fenomenlogik, yaitu berlangsung atas maksud, pemaknaan, dan tujuan,
bukan didasarkan atas proses mekanik dan otomatis.
5. Konsep
mental manusia itu berkembang dialektik; dan
6. Prilaku
manusia itu wajar dan konstruktif reaktif.
B. Subtansi dan Perbincangan Interaksi Simbolik
Mead
bermaksud membedakan antara teori yang diperkenalkan dengan teori behaviorisme.
Teori behaviorisme mempunyai pandangan bahwa perilaku individu adalah sesuatu
yang didapat diamati, artinya mempelajari tingkah laku manusia secara objektif
dari luar. Interaksionisme simbolik menurut Mead mempelajari tindakan social
dengan mengunakan tehnik intropeksi untuk dapat mengetahui sesuatu yang dapat
melatarbelakangi tindakan ssoial itu
dari sudut actor. Jadi, interaksi simbolik memandang manusia bertindak bukan
semata-mata karena stimulus dan respon, melainkan juga didasar atas makna yang
diberikan terhadap tindakan tersebut.
Menurut
Mead, manusia mempunyai sejumlah kemungkinan tindakan dalam pemikiran sebelum
ia memulai tindakan yang sebenarnya, seseorang terlebih dahulu berbagai
alternative tindakan itu melalui pertimbangan pemikirannya. Karena itu, dalam
proses tindakan manusia terdapat suatu proses mental yang tertutup yang mendahului proses yang sebenarnya.
Perspektif
tentang masyarakat yang menekan pada pentingnya bahasa dalam upaya saling
memahami telah diungkapkan oleh Mead. Selanjutnya Blumer memperkenalkan sebagai
premis interaksinisme simbolik sebagai berikut:
1. Manusia
melakukan tindakan “sesuatu” berdasarkan makna yang dimiliki “sesuatu” tersebut
untuk mereka;
2. Makna
dari “sesuatu” tersebut berasal dari atau muncul dari interaksi social yang di
alaminya seorang dengan sesamanya;
3. Makna-makna
yang ditangani dimodifikasi melalui suatu proses interpretative yang digunakan
orang dalam berhubungan dengan “sesuatu” yang ditemui.
C. Interaksi Simbolik dalam Realitas Sosial
Manusia
mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan memanipulasi symbol-simbol.
Kemampuannya itu diperlukan untukn komunikasi antarpribadi dan pikiran
subjektif. Guna memandang proses dan relativitas bentuk-bentuk yang ada, maka
Mead selanjutnya menggunakan tiga perspektif yang berbeda; evolusionisme
Darwin, idealism dialektis Jerman, dan pragmatism Amerika, meskipun Mead
“menolak” dikatakan hanya mensintesis ketiga perpektif itu.
1) Sikap-isyarat
(Gestur)
Gertur
adalah gerakan organisme pertama yang bertindak sebagai rangsangan khusus yang
menimbulkan tanggapan (secara social) yang tepat dari organisme kedua. Isyarat
suara sangat penting perannya dalam pengembangan isyarat yang signifikan. Namun,
tak semua isyarat suara signifikan, kekhususan manusia dibidang isyarat
(bahasa) ini pada hakikatnya yang bertanggung jawab pada asal-muasal
pertumbuhan masyarakat dan pengetahuan manusia sekarang dengan seluruh control
terhadap alam dan lingkungan dimungkinkan berkat pengtahuan.
2) Simbol-simbol
Signifikan
Symbol
Signifikan adalah sejenis gerak isyarat yang hanya dapat diciptakan oleh
manusia. Isyarat menjadi symbol signifikan bila muncul dari individu yang
membuat symbol-simbol itu sama dengan dengan sejenis tanggapan (tetapi tidak
perlu sama) yang diperoleh dari orang yang menjadi sasaran isyarat. Jadi disini
dapat disimpulkan symbol-simbol signifikan ada 2, yaitu: symbol Bahasa dan
Simbol Isyarat Fisik: -Fungsi bahasa ataw symbol yang signifikan pada umumnya
adalah menggerakan tindakan yang sama dipikhak individu yang berbicara dan juga
pihak yang lainnya. Pengaruh lain dari bahasa merangsang orang yang
berbicara dan orang yang
mendengarkannya. –Simbol Isyarat Fisik, menciptakan peluang diantara individu
yang terlibat dalam tindakan social tertntu untuk mengacu pada objek ataw
objek-objek yang menjadi sasaaran tindakan itu,
3) Pikiran
(mind)
Didefinisikan
mead sebagai proses percakapan seseorang dengan sendirinya, tidak ditemukan
dalam diri individu; pikiran adalah fenomena social. Pikiran muncul dan
berkembang dalam proses social dan merupakan bagian integral dari proses
social. Dan karakteristik istimewa dari pikiran adalah kemampuan individu untuk
“memunculkan dalam dirinya sendiri tidak hanya satu respon saja, tetapi juga
respon komunitas secara keseluruhan, itulah yang dinamakan pikiran”.
4) Diri
(self)
Pada dasarnya diri adalah kemampuan untuk
menerima diri sendiri sebagai objek. Diri adalah kemampuan khusus untuk menjadi
subjek maupun objek, untuk mempunyai diri, individu harus mencapai keadaan
“diluar dirinya sendiri” sehingga mampu mengevaluasi diri sendiri, mampu
menjadi objek bagi dirinya sendiri. Dalam bertindak rasional ini mereka mencoba
memeriksa diri sendiri secara inpersonal, objektif dan tanpa emosi, Mead
mengidentifikasi dua aspek atau fase diri, yang ia namakan “I” dan “Me”. Mead
menyatakan, diri pada dasarnya diri adalah proses social yang berlangsung dalam
dua fase yang dapat dibedakan, perlu diingat “I” dan “ME” adalah proses yang
terjadi didalam proses diri yang lebih luas. Bagian terpenting dari pembahasan
Mead adalah hubungan timbal balik antara diri sebagai objek dan diri sebagai
subjek. Diri sebagai objek ditujukan oleh Mead melalui konsep “Me”, sementara
ketika sebagai subjek yang bertindak ditunjukan dengan konsep “I”.
Analisis Mead mengenai “I” membuka peluang bagi
kebebasan dan spontanitas. Ketika “I” mempengaruhi “Me”, maka timbulah
modifikasi konsep diri secara bertahap . ciri pembeda manusia dan hewan adalah
bahasa dan “symbol signifikan”. Symbol signifikan haruslah merupakan suatu
makna yang dimengerti bersama. Ia terdiri dari dua fase, “Me” dan “I”. dalam
kontek ini “Me” adalah sosok saya sendiri sebagai mana yang dilihat oleh orang
lain, sedangkan “I” adalah bagian yang memperhatiakan diri saya sendiri. Dua
hal yang itu menurut Mead menjadi sumber orisinallitas, kreativitas, dan
spontanitas. Percakapan internal memberikan saluran melalui semua percakapan
eksternal. Andai diri itu hanya mengandung “Me”, hanya akan menjadi agen
masyarakat. Fungsi kita hanyalah memenuhi perkiraan dan harapan orang lain.
Menurut Mead, diri juga mengadung “I” yang merujuk pada aspek diri yang aktif
dan mengikuti gerak hati. Mead menyebutkan, bahwa seseorang itu dalam membentuk
konsep dirinya dengan jalan mengambil perspektif orang lain dan melihat dirinya
sendiri sebagai objek. Untuk itu, ia melllewati tiga tahap yaitu:
1. Fase Bermain
Dimana
si individu “memainkan” peran social orang lain. Tahap ini menymbang
perkembangan kemampuan untuk meransang perilaku individu itu sendiri menurut
perspektif orang lain dalam suatu peran yang berhubungan dengan itu.
2. Fase Pertandingan
Fase
pertandingan yang terjadi stelah pengalaman social individu berkembang. Tahap
pertandingan ini dapat dapat dibedakan dari tahap bermain dengan adanya suatu
tingkat organisasi yang lebih tinggi. Konsep diri individu terdiri dari
kesadaran subjektif individu terhadap perannya yang khusus dalam kegiatan bersama
itu, termasuk persepsi-persepsi tentang harapan dan respons dari yang lain.
3. Fase Mengambil Peran
Fase mengambil peran (generalized other), yaitu
ketika individu mengontrol perilakunya sendiri menurut peran-peran umum
bersifat impersonal. Menurut Mead, generalized other itu bisa mengatasi
kelompok atau komunitas tertentu secara transeden atau juga mengatasi
bata-batas kemasyarakatan.
5) Masyarakat
Pada
tingkatan paling umum, Mead menggunkan istilah masyarakat (society) yang berarti proses social diri tanpa henti
yang mendahului pikiran dan diri. Masyarat penting peranannya dalam membentuk
pikiran dan diri, ditingkat lain, menurut Mead, Masyarakat mencerminkan
sekumpulan tanggapan terorganisir yang diambil oleh individu dalam bentuk “aku”
(me).Konsep Mead tentang masyarakat juga menekankan pada kekhususan model
praksis manusia,di mana tanganlah yang menjembatani interaksi manusia dengan
dania interaksi antara manusia dengan manusia lain,ia menekankan adanya
keterkaitan antara pengalaman praktis yang d ijembatani
oleh tangan.Pembicaraan dan tanganj secara bersama-sama berperan dalam
pengembangan manusia social.Maksudnya,beberapa jenis aktivitas kerjsama telah
menyebabkan adanya kedirian.
4. Manusia dan Makna dalam Perspektif Ineraksi Simbolis
Mead
memandang realitas social dengan kacamata psikologi social sebagai sesuatu
proses yang dinamis, bukan statis. Manusia maupun aturan social dalam proses
“akan jadi”, bukan sebagai fakta yang sudah lengkap dan terminasi. Mead
meneliti bagaimana proses individu menjadi anggota organisasi (masyaraka). Mead
mengawalinya dengan diri (self) yang menjalani internalisasi atau interpretasi
subjectif atas realitas struktur yang lebih luas. “Diri” ini berkembang ketika
orang belajar “ mengambil peran orang lain” atau masuk dalam pertandingan
(games) ketimbang permaianan (play). Manusia
disamping itu mampu memahami orang lain yang memaahami diri sendiri. Hal ini
ditunjang oleh penguasan bahasa sebagai symbol danisyarat terpenting, kerena
bahasa dan isyarat itu orang bisa melakukan ineraksi simbolik dengan dirinya
sendiri.
Berikut
ini paparan mengenai Interaksi Simbolik yang dikemukakan oleh Herbert Blumer
yang telah mengadopsi konsep-konsep dari Mead.
a) Pesan: Dasar Dari Realitas Sosial (Meaning : The
Construction Of Social Reality)
Toeri pertama Blumer menyatakan bahwa “individu berperilaku
kepada masyarakat atau objek berdasarkan apa yang mereka pahami secara
mendasar mengenai masyarakat atau objek
tersebut.” / “human act toward people or things on the basis of the meaning
they assign to those people or things”. Individu bertindak sesuai dengan apa
yang dia maknai dalam sebuah situasi yang sedang ia hadapi. Dalam kasus ini
persepsi atau anggapan yang kita hasilkan mengenai seseorang , situasi dan
objek-lah yang membentuk pola perilaku kita dalam Realitas Sosial yang terjadi
b) Bahasa: Sumber Dari Makna/Pesan (Language : The Source Of
Meaning)
Teori
kedua Blumer menyatakan bahwa “makna tumbuh melalui interaksi sosial antara
satu sama lain atau antara individu yang satu dengan individu yang lain” atau “meaning
arises out of the social interaction that people have with each other”.
Pada
point ini Bahasa memiliki peran yang sangat besar dalam memaknai berbagai hal
seperti orang, benda maupun situasi. Bahasa merupakan sumber dari makna yang
disampaikan oleh seseorang terhadap sesuatu hal yang terjadi atau yang ada
dihadapannya, walau Bahasa tidak sepenuhnya dapat memaknai realitas yang
sebenarnya namun setidaknya bahasa dapat menjadi wakil dari realitas itu
sendiri.
c) Berpikir: Proses Pengambilan Peran Orang Lain. (Thought :
The Process Of Taking The Role Of Other)
Teori
ketiga Blummer menyatakan bahwa “interpretasi individu mengenai simbol dibentuk
oleh pemikirannya sendiri” atau “individual’s interpretation of symbols is
modified by his or her own thought processes”
Blumer
dalam teorinya yang ketiga menggambarkan manusia sebagai individu yang memiliki
kapasitas untuk “mengambil peran dari orang lain” yang berarti proses dimana
kita secara sadar menilai diri sendiri melalui pandangan orang lain. Kita
menciptakan sebuah standar yang harus dicapai oleh diri kita sendiri yaitu
kesuksesan, kebahagiaan, dll. Dan dalam tahap tertentu kita berusaha
membayangkan apa yang orang lain pikirkan jika melihat diri kita, sukseskah kita dimata mereka? Bahagiakah
kita? normalkah? dsb.. Proses tersebut ikut membentuk konsep mengenai diri
individu .
d) The Self: Bayangan Di Cermin (The-Self : Reflection In A
Looking Glass)
Kembali
kepada konsep Mead, dimenyatakan bahwa “kita melukis potret diri kita dengan
sapuan kuas yang datang dari mengambil peran orang lain, membayangkan bagaimana
kita melihat orang lain” atau “we paint our self-portrait with brush strokes
that come from taking the role of the other-imagining how we look to another
person.”
Dalam
pernyataan di atas tegaskan bahwa konsep diri tidak semata-mata ada begitu saja
atau bawaan lahir melainkan sebuah konsep yang dihasilkan oleh masyarakat
sosial sebagai hasil dari interaksinya terhadap lingkungan.
e) Komunitas: Mensosialisasikan Efek Dari Harapan Orang Lain (Community:
The Socializing Effect of Others Expectations)
Dalam
kehidupan kita sehari-hari, kita tidak hanya terhubung dengan keluarga kita
sendiri atau orang-orang dekat kita saja. Namun, kehidupan kita mencakup dunia
yang lebih luas seperti dunia akademik, professional, dll, dimana kita
diharuskan untuk bisa berinteraksi dengan semua orang yang ada.
Semua
hal tersebut merupakan Generalized Other. Generalized Other sendiri memiliki
pengertian sebagai “pandangan kedua yang mempengaruhi bagaimana kita melihat
diri sendiri”. Generalized other dapat berupa sekelompok aturan, peran-peran
sosial, perilaku yang “ditekankan” oleh kelompok masyarakat, serta komunitas
sosial dimana kita berada.
Naming/Penamaan.
“Stick and stones can break bones, but names can actually hurt me”
merupakan pepatah yang tepat menggambarkan efek dari penamaan itu sendiri
.memberikan penamaan seperti “betty la
fea/ betty jelek, nancy bodoh, dll merupakan salah satu hal yang dapat
berpengaruh besar terhadap konsep diri.
Self-fulfilling
prophecy adalah ekspektasi/ harapan, serta penilaian orang lain terhadap diri
kita yang berusaha kitawujudkan dalam perilaku/tindakan.
5.
Metodologi
Yang Digunakan Dalam Interaksi Simbolik
Interaksionisme
simbolk menganalisis manusia dari aspek perilaku tersembunyi, yaitu proses
mental yang namanya berpikir. Karenanya untuk menganalisis realitas yang
tersembunyi, dan kedalaman data, yang paling sesuai dan tepat adalah metodologi
kualitatif.
Sedangkan
dari aspek ontologinya (the nature of reality) mendasarkan pada paradigma
construtivism ataupun relativism mengasumsikan, realitas itu merupakan hasil
konstruksi mental dari individu-individu pelaku sosial, karenanya realitas itu
dipahami secara beragam oleh setiap individu. Adapun Prinsip metodologi
interaksionisme simbolik ini sebagai berikut:
a. Symbol
dan interaksi itu menyatu. Tak cukup bila kita hanya merekam fakta. Kita juga
harus mencari yang lebih jauh dari itu, yakni mencari konteks sehingga dapat
ditangkap symbol dan makna sebenarnya.
b. Karena
symbol dan makna itu tak lepas dari sikap pribadi, maka jati diri subjek perlu
“ditangkap’. Pemahaman mengenai konsep jati tiri subjek yang demikian itu
adalah penting.
c. Peneliti
harus sekaligus mengaitkan antara symbol dan jati diri dengan lingkungan yang
menjadi hubungan sosialnya, dan lainnya.
d. Hendaknya
direkam situasi yang menggambarkan symbol dan maknanya, bukan hanya mrekam
fakta sensual.
e. Metode-metode
yang digunakan hendaknya mampu merefleksikan bentk prilaku dan prosesnya.
f.
Meode yang dipakai
hendaknya mampu menangkap makna dibalik interaksi.
g. Sensitizing
yaitu sekedar mengarahkan pemikiran,itu yang cocok dengan interaksionisme
simbolik, dan ketika mulai memasuki lapangan perlu dirimuskan menjadi yang
lebih operasional, menjadi scientific concept.
BAB III
APLIKASI TEORI
~Hubungan
Kasus Dengan Teori~

MABUK, MODEL CANTIK NOVI AMELIA TABRAK 7 ORANG
Kasus tentang model cantik Nova Amelia yang
menabrak tujuh orang di kawasan Taman Sari Jakarta.Pada saat itu dia hanya
mengenakan pakaian dalam dan mabuk berat.Pada saat sidang kasusnya dia
mengenakan jilbab.Dari kasus ini teori yang simbolik yang dapat kita temukan
adalah konsep diri (I and Me).Dimana “Me” diri sebagai objek,dan “I” ketika sebagai
subjek yang bertindak.Konsep Me yang termasuk pada kasus yaitu pada saat pelaku
hadir pada sidang kasusnya dengan memakai jilbab.Sedangkan konsep I muncul pada
saat dia sendirian dengan melucuti dan mabuk berat.konsep I lebih membuka
peluang besar bagi kebebasan dan spontanitas.
BAB IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Kesimpulan
penulisterhadap teori interaksi simbolik di mana manusia atau indivuidu hidup
dalam suatu lingkungan yang di penuhi oleh symbol-simbol.Tiap individu yang
hidup akan memberikan tanggapan terhadap simbol-simbol yang ad Seperti
penilaian individu menanggapi suatu rangsangan (stimulus) dari suatu yang
bersifat fisik.Pemahaman individu terhadap symbol-simbol merupakan suatu hasil
pembelajaran dalam berinteraksi di tengah masyarakat,Dengan mengkomunikasikan
symbol-simbol yang ada di sekitar mereka,baik secara verbal maupun perilaku non
verbal.Pada akhirnya,proses kemampuan berkomunikasi,belajar,serta memahami
suatu makna di balik symbol-simbol yang ada,menjadi keistimewaan tersendiri
bagi manusia di bandingkan makhluk hidup lainnya (binatang).Kemampuan manusia
inilah yang menjadi pokok perhatian dari analisis sosiologi dari teori
interaksi simbolik.Ciri khas dari interaksi simbolik terletak pada penekanan
manusia dalam lansung antara stimulus –response,tetapi di dasari pada pemahaman
makna yang di berikan terhadap tindakan orang lain melalui penggunaan
symbol-simbol,interpretasi,pada akhirnya tiap andividu tersebut akan berusaha
saling memahami maksud dan tindakan masing-masing untuk mencapai kesepakatan bersama.
B.
SARAN
dan KRITIK
Apa
yang telah dikemukakan oleh Mead mengenai konsep Interaksi Simbolik memang
merupakan sumbangsih yang sangat besar bagi perkembangan dunia Komunikasi.
Namun dalam paparan mengenai Interaksi Simbolik tersebut Mead melupakan satu
hal yang sangat penting yang nyata keberadaanya dalam realitas sosial, yaitu
keterbatasan individu dalam menerima simbol dengan baik karena kecacatan pada
organ tubuh atau genetik, seperti kebutaan, tuna rungu, bisu dsb. Dalam
berbagai point yang telah disampaikan di atas, ada satu point yang sangat
terpengaruhi apabila kecacatan itu dialami seseorang yaitu pada Bahasa: Sumber
Dari Makna/Pesan (Language : The Source Of Meaning). Seseorang dengan
keterbatasan dalam berbicara akan sangat sulitdalam memaknai hal lewat bahasa,
namun hal ini terlewat oleh Mead dan Blumer.
DAFTAR
PUSTAKA
Wirawan,I.B.2012.Teori-Teori
Sosial Dalam Tiga Paradigma.Jakarta:Kencana
Prenata Media.
Noviardi,Laode
Imam Toffani.2011.Interaksi Simbolik
George Herbert Mead,(Online),(http:Reviewkomunikasi.Blogspot.Com).
http:www.Fahmi zolla.Blogspot.com
Related Posts :
- Back to Home »
- MAKALAH SOSIAL »
- TEORI INTERAKSI SIMBOLIK menurut GEORGE HARBERD MEAD

WAOOOO sangat bermanfaat, semoga jadi amal jariyah anda.
ReplyDeletemhn. ijin copas ya.
"ya silahkan"
trimakasih he he he ...............