Posted by : Pathurroni 25 Apr 2014

MAKALAH
TEORI-TEORI SOSIAL
“TEORI AKSI , TALCOTT PARSON”

OLEH :
KELOMPOK I
AHMAD TARMIZI ( E1B113004)
BUNGA QURRATUL AINI ( E1B113018)
LENI MARIANTI ( E1B113040)
MELINDA PURNAMA SARI ( E1B113044)

JURUSAN : P.IPS
PROG. STUDI : PPKn. REG. SORE SEMESTER II b


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2014/2015



KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,karena berkat rahmat-Nya lah kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Terima kasih kami haturkan kepada bapak  dosen pembimbing mata kuliah Teori- Teori Sosial , karena berkat bimbingan dari beliau lah kami dapat menyusun makalah ini sebagaimana mestinya.
            Dalam makalah ini kami membahas mengenai Teori Aksi Talcott Parson . kami  selaku penulis mohon maaf apabila didalam makalh ini terdapat banyak kesalahan.Baik kesalahan dalam penulisan kata maupun kesalahan dalam struktur penulisan ,karena kami juga masih dalam proses belajar.Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk memperdalam pengetahuan bagi kita semua,khususnya bagi para pembaca makalah ini.
                                                                                                       




                                                                                   Mataram, 25 April 2014
                                                                                                                        
                                                                                                 Penulis





DAFTAR ISI   
KATA PENGANTAR                                                     i
DAFTAR ISI                                                               ii
BAB I. Pendahuluan                                                   1                     
A.      Historisasi teori                                                                                               1
B.      Tokoh-tokoh penggagas                                                                                2
BAB II. Asumsi-asumsi dasar  teori                              3
A.      Pandangan mengenai organisasi social                                                        3
B.      System-sistem Aksi                                                                                         3
C.      Pengembangan system syarat                                                                       7
D.     Hirarkhi informasional pengendalian                                                           8
E.       Perubahan sosial                                                                                            9
BAB IV. Aplikasi Teori                                                10
BAB V. Kesimpulan                                                    11
REFERENCE                                                                                               12
                                                                                                                                                                                                                                                                                                              



BAB I.
PENDAHULUAN

A.      Historisasi  Teori aksi
Talcott Parsons  dilahirkan di Colorado Springs pada tahun 1902. Pada 1920 Ia masuk ke Amherst College. Setelah itu, ia  melanjutkan  studi pascasarjana di London School of Economics tahun 1924. Pada tahun 1925, Parsons pindah ke Heidelberg, Jerman. Pada tahun 1927, ia menjadi instruktur dalam ekonomi di Amherst. Sejak tahun 1927 hingga wafat pada tahun 1979 ia berprofesi sebagai pengajar di Harvard, Amerika Serikat. Pada 1937, ia mempublikasikan sebuah buku yang menjadi dasar bagi teori-teorinya, yaitu buku “The Structure of  Social Action”. Dalam mengulas peranan parsons pada pembentukan teori sosiologi , senantiasa harus diperhitungkan hubungan antara pandangan awalnya mengenai gejala social dengan strategi yang diajukannya untuk menyusun konsep dari pandangannya itu. Dari hasil hubungan terssebut muncul dan berkembang suatu teori umum mengenai aksi (general theory of action)  , yang tidak terpisahkan dari dasar-dasar analitis yang diuraikan dalam The Structure of Social Action. Kesinambungan mengembangkan teori aksi tersebut , dapat disebut sebagai cirri utama pandangan parsons.  
Dalam The Structure of Social Action parsons mengembangkan realisme analitis untuk menyusun teori sosiologi . teori dalam sosiologi harus menggunakan sejumlah konsep penting yang terbatas yang secara proporsional mencakup aspek-aspek dunia eksternal yang obyektif. Konsep- konsep itu tidaklah sama dengan gejala konkrit, akan tetapi sama dengan unsure-unsurnya yang secara analitis dapat dipisahkan dari unsur-unsur lainnya ( Talcott parsons 1937:730 ) 
Talcott Parsons melahirkan teori fungsional tentang perubahan. Dalam teorinya, Parsons menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada mahkluk hidup. Komponen utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi. Parsons berpendapat bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan Parsons termasuk dalam golongan yang memandang optimis sebuah proses perubahan.
B.      Tokoh- tokoh penggagas
Tokoh penggagas dari teori ini adalah   Talcott parsons  yang dilahirkan di Colorado Springs pada tahun 1902, berikutnya ada Robert Bales dan Edward Shils, Turner, Durkheim, Radcliffe  Brown

BAB II.
ASUMSI-ASUMSI DASAR TEORI

A.   Pandangan mengenai organisasi social
strategi parsons untuk menyusun teori , berpegang teguh pada suatu posisi ontologis yang jelas, yaitu keadaan social memperlihatkan cirri-ciri secara sistematis yang harus dicakup oleh suatu pengaturan konsep-konsep abstrak secara paralel. Hal yang lebih menonjol lagi adalh asumsi-asumsi mengenai hakikat dunia social yang voluntaristik. Teori aksi voluntaristik menyajikan suatu sintesa asumsi-asumsi bermanfaat dan konsep- konsep utilitarisme, positivisme, maupun idealisme bagi parsons. Hal yang penting adalah , parsons berhasil memilih berbagai konsep dari ketiga aliran tersebut yang kemudian dijadikan teori voluntaristik dari aksi ( voluntaristic theory of action ). Hal ini merupakan titik awal , sesuai dengan strateginya , untuk mengkonstruksikan teori fungsional dari organisasi social . oleh karena itu voluntaristik mencakup unsur-unsur dasar sebagai berikut :
  1. Pelaku yang merupakan pribadi individual
  2. Pelaku mencari tujuan-tujuan yang akan dicapai
  3. Pelaku mempunyai cara-cara untuk mencapai tujuan
  4. Pelaku dihadapkan pada berbagai kondisi  situasional
  5. Pelaku dikuasai oleh nilai- nilai, kaidah- kaidah, dan gagasan-gagasan lain yang mempengaruhi penetapan tujuan dan pemilihan cara untuk mencapai tujuan
  6. Aksi mencakup pengambilan keputusan secara subyektif oleh pelaku untuk memilih cara mencapai tujuan , yang dibatasi oleh berbagi gagasan dan kondisi situasional.
Proses yang tergambar tersebut seringkali disebut unit aksi , dengan aksi social yang menyangkut perbuatan yang dilakukan oleh satu atau beberapa pelaku.
B.    System-sistem Aksi
Peralihan dari analisa unit-unit aksi ke sistem-sistem aksi agaknya terjadi melalui berbagai kegiatan konseptual , sebagai berikut :
  1. Unit-unit aksi tidak terjadi dalam kehampaan social
  2. Unit-unit aksi berlangsung dalam suatu konteks social , yakni pada saat pelaku mempunyai kedudukan dan secara normatif menetapkan prilaku peranan yang diharapkan
  3. Kedudukan dan peranan senantiasa berkaitan dlam berbagai tipe sistem-sistem
  4. Dengan demikian unit-unit aksi harus dipandang dari perspektif system-sistem interaksi dimana aksi dilihat sebagai pola penetapan peranan oleh para pelaku
  5. System-sistem interaksi tersebut terdiri dari para pelaku yang masing-masing mempunyai kedudukan dan penetapan peranan yang diharapkan secara normative dipandang membentuk suatu system social.
Walaupun demikian , struktur aksi tidak semata-mata mencakup prilaku yang diharapkan secara normative . pertama-tama , aksi mencakup pengambilan keputusan secara individual untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kedua, nilai dan gagasan lainnya membatasi ruang lingkup pengambilan keputusasaan yang dibuat pelaku untuk  mencapai tujuan. Ketiga kondisi-kondisi situasional, seperti keturunan dan ciri-ciri lingkungan fisik merupakan kendala bagi aksi.
Sebagai sosiolog Parsons mengakui bahwa pusat perhatiannya pada teori mencakup analisis system social. Empatbelas tahun setelah terbit The Structure Of  Social Action,  Parsons menulis dan menerbitkan The Social System. Dalam buku itu Parsons menyajikan perbedaan-perbedaan analitis antara system-sistem social dan kepribadian maupun pols-pola kebudayaan.
Dalam mencakup cirri-ciri kebudayaannya, masyarakat dan kepribadian secara sistematis konseptual, parsons tidak membuang waktu dengan menyajikan pyrasarat fungsional unsur-unsur dasar aksi. Prasyarat itu tidak hanya berkaitan dengan masalah-masalah internal unsur-unsur aksi, akan tetapi juga mengenai artikulasi satu dengan lainnya.
Dengan mengikuti paham Durkhem dan Radcliffe Brown, dia memandang integrasi didalam  dan antara dua system aksi serta pola pola kebudayaan sebagai prasyarat untuk dapat bertahan.oleh karena system social menjadi pusat perhatian Parson, dia menelaah masalah integrasi dalam system social itu sendiri dan antara sistem sosial dengan pola-pola kebudayaan di satu pihak, dan antara system social dengan system keperibadian, di lain pihak.
Hal yang penting dari konseptuallisasi system social adalah konsep pelembagaan atau istitusionalisasi, yang mengacu pada pola intraksi yang relatip stabil antara pelaku pelaku dalam kedudukan masing masing. Pola-pola demikian diatur secara normative dan dipengaruhi oleh pola pola kebudayaan. Pengaruh  nilai-nilai tersebut mungkin terjadi melalui dua cara, yaitu:
a.       nilai nilai yang mengatur perilaku peranan dapat mencerminkan nilai nilai umum dan kepercayaan dalam kebudayaan
b.       .nilai nilai kebudayaan dan pola pola lainmya mungkin menjiwai system keperibadian, dan mempengaruhi struktur kebutuhan-kebutuhan dari system, yang menentukan kehendak pelaku untuk menetapkan peranan peranan dalam system social.
Parson memandang institusionalisasi baik sebagai proses maupun struktur.sebagai suatu peruses, institusionalisasi dapat digolongkan kedalam tipe tipe tertentu dengan cara berikut:
a.       para pelaku dengan beraneka ragam orientasi memasuki situasi tempat mereka harus berinteraksi.
b.       Cara pelaku berioritas merupakan pencerminan dari struktur kebutuhannya dan bagaimana struktur kebutuhan itu di ubah oleh penjiwaan pola pola kebudayaan.
c.       Melalui proses interaksi tertentu,muncullah kaidah-kaidah pada saat para pelaku saling menyesuaikan orientasi masing masing.
d.       kaidah kaidah itu timbul sebagai suatu cara saling menyesuaikan diri,dan juga membatasi pola pola kebudayaan umum.
e.       Selanjutnya kaidah-kaidah itu mengatur interaksi yang terjadi kemudian,sehingga tercipta keadaan stabil.

Apabila interaksi telah melembaga , maka dapat dikatakan terdapat suatu system social . suatu system social tidak harus merupakan mayarakat yang mnyeluruh, namun setiap pola interaksi yang diorganisasikan baik secara mikro maupun makro, merupakan suatu system social.
Setelah menyusun suatu kerangka analisa , parsons kembali pada pertanyaan yang diajukannya dalam The Structure of Social Action, yang menjadi patokan bagi semua formulasi teoritisnya, yaitu bagaimanakah system-sistem social bertahan? Atau , secara lebih tegas, mengapa pola-pola interaksi yang telah melembaga dapat bertahan ? maslah itu menimbulkan pertanyaan mengenai system syarat-syarat , oleh karena parson mempertanyakan , bagaiman sisem-sistem itu memecahkan problem-problem integratifnya. Jawaban atas pertanyaan itu adalah dengan jalan mengembangkan konsep tambahan yang menunjukkan bagaiman system-sistem kepribadian dan kebudayaan terintegrasi dalm system social , sehingga menjamin kesatuan normative dan keterikatan para pelaku untuk memetuhi kaidah-kaidah dan memainkan peranannya.
Mekanisme pengendalian social mencakup cara cara dalam mana peranan-peranan kedudukan di organisasikan dalam system system social untuk mengurangi tekanan dan penyimpangan.
Ada bermacam macam mekanisme pengendalian sosial khusus,seperti umpamanya :
a.       Pelembagaan atau institusionalisasi yang menjernihkan peranan-peranan yang di harapkan,dan menetralisasikan harapan harapan yang saling bertentangan.
b.       Sanksi sanksi anatara pribadi yang di hormati para pelaku.
c.       aktivitas aktivitas ritual melalui para aktor menyalurkan berbagai tekananan dan yang sekaligus memperkuat pola pola kebudayaan yang dominanan.
d.       .Struktur nilai nilai penyalur kedtegangagan yang memisahkan potensi untuk menyimpan dengan pola-pola institusional normal.
e.       Struktur-struktur reinintegrasi yang fungsinya mengembalikan kecendrungan kecendrungan untuk menyimpan kearah yang normal
f.        Pelembagaan kekuatan dan paksaan ke dalam sector-sector tertentu system tersebut 
  1. Pengembangan system syarat-syarat
Tidak lama setelah parsons menerbitkasn The Social System, bersama dengan Robert bales dan Edward Shils dia menerbitkan Working Papers in Theory of Action (1953). Dalam buku ini , konsep-konsep fungsional imperatif mendominasi teori umum aksi. Selam periode itu dikatakan bahwa system-sistem aksi dikonseptualisasikan sebagai sesuatu yang mengahadapi 4 masalah ketahanan atau syarat , yaitu Adaptasi, pencapaian tujuan, Integrasi dan keadaan laten yang sering di singkat AGIL (Adaptation, Goal attainment, Integration, Latency).
  1. Adaptasi, sebuah sistem ibarat makhluk hidup, artinya agar dapat terus berlangsung hidup, sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. harus mampu bertahan ketika situasi eksternal sedang tidak mendukung. Adaptasi berkaitan dengan masalah mengambil fasilitas yang cukup dari alam sekeliling dan membaginya melalui system tersebut.
  2. Goal (Pencapaian), sebuah sistem harus memiliki suatu arah yang jelas dapat berusaha mencapai tujuan utamanya. Dalam syarat ini, sistem harus dapat mengatur, menentukan  dan memiliki sumberdaya untuk menetapkan dan mencapai tujuan yang bersifat kolektif. Dimana pencapaian tujuan ini menyangkut masalh penetapan prioritas antara system tujuan-tujuan dan menggerakkan sumber-sumber daya untuk mencapainya.
  3. Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi penting lainnya. Integrasi menunjuk pada masalah koordinasi dan pemeliharaan hubungan-hubungan antara unit-unit system.
  4. Latensi, Pemeliharaan pola, sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.
Dalam The Social System semua syarat tersebut masih bersifat implisit dan cenderung dibahas dalam rangka masalah umum integrasi. Namun dalam pembahasan mengenai integrasi didalam maupun antara system-sistem aksi dalam The Social System, masalah- masalah untuk mengambil fasilitas (adaptasi), alokasi dan merumuskan tujuan (pencapaian tujuan), sosialisasi dan pengendalian social (keadaan laten) sudah nyata. Pengembangan ke 4 syarat itu sebenarnya merupakan pengembangan lebih lanjut dari apa yang disajikan dalam The Social System.
  1. Hirarkhi Informasional pengendalian
Pada akhir tahun 50 an , parsons mengalihkan perhatiannya pada hubungan timbal balik antara 4 sistem aksi yang berbeda, yaitu kebudayaan, strukrtur social, kepribadian, dan organisme. Sebenarnya Analisanya yaitu cenderung kembali pada pola unit aksi yang dijelaskan  dalam The Structure of Social Action. Akan tetapi sekarang, setiap unsur unit aksi dianggap sebagai system aksi tersendiri yang masing-masing menghadapi masalah-masalah fungsional, yaitu adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan keadaan laten.selanjutnya tekanan analitis beralih ke hubunghan masukan dengan keluaran antara ke 4 sistem aksi.
Parsons mulai mempelajari hubungan timbal balik antara ke 4 subsistem, hal yang muncul adalah suatu hirarki pengendalian-pengendalian informasional ( Talcott parsons 1958: 612-711). Kebudayaan secara informasional membatasi system social, struktur social mengatur system kepribadian, dan kepribadian mengatur system organism. Cici-ciri system kepribadian dipandang sebagi sesuatu yang membatasi proses biokimiawi dalam organisme. Sebaliknya setiap system dalam hirarki tersebut dipandang memberikan kondisi energik yang diperlukan bagi terjadinya aksi pada system yang lebih tinggi. System-sistem yang memiliki informasi terbesar atau yang tarafntya tinggi membatasi penggunaan energy system yamg lebih rendah , sedangkan system yamg lebih rendah memberikan fasilitas dan menciptakan kondsi yang diperlukan oleh system yamg lebih tinggi. Hal itu di beri nama hirarki sibernetis ( cybernetic hierarchy).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa menurut parsons hubungan antara unsure-unsur atau komponen-komponen aksi bersifat informasional. Artinya hubungan-hubungan tersebut terjadi melalui lambang-lambang . pertukaran informasi atau pengendalian sibernetis beroperasi melalui 3 cara yaitu :

a.       Proses pertukaran atau pengaruh timbal balik antara ke 4 subsistem terjadi melalui berbagai tipe media simbolis, yakni uang, kekuasaan, pengaruh , atau keterikatan
b.      Proses itu juga berlangsung dengan mempergunakan media simbolisdistingtif. Penentuan media atas dasar syarat fungsional mempunyai daya mengikat yang sama kuatnyadalam suatu system tertentu ataupun pada ke 4 nya.
c.       Adaptasi , pencapaian tujuan, integrasi ,dan keadaan laten menentukan tipe media simbolis yang dipergunakan dalam hubungan antar subsistem atau system. 
  1. Perubahan Sosial
Proses kelangsungan informasi dan energy antara berbagai system aksi memberikan peluang bagi terjadinya perubahan didalam system aksi atau pada hubungan antara berbagai system aksi tersebut. Saalah satu sumber perubahan itu adalah akses informasi atau energy. Misalnya , akses motivasi (energy mempunyai akibat bagi penetapan peranan-peranan , struktur normative, dan orientasi nilai kebudayaan). Sumber lain adalah kurangnya informasi atau energy, yang menyebabkan terjadinya penyesuaian kembali baik secara eksternal maupuin internal. Untuk menjelaskan konsep perubahan parsons mempergunakan kerangka aksi untuk menganalisa evolusi social berbagai masyarakat. Dengan mengambil kerangka fikiran Spencer dan Durkheim, proses menyatakan bahwa proses evolusi memperlihatkan unsur-unsur , sebagai berikut :
a.       Meningkatnya diferensiasi unit-unit system menjadi pola-pola interdependensi fungsional
b.       Pembentukan prinsip-prinsip dan mekanisme baru integrasi untuk mengadakan diferensiasi system-sistem
c.       Kemampuan bertahan yang meningkat dari system-sistem dalm hubungannya dengan lingkungan
Dari sudut pandangan atau perspektif teori aksi, evolusi mencakup hal-hal  sebagai berikut :
  1. Peningkatan diferensiasi sistemp-sistem kepribadian, social, kebudayaan dan organismik
  2. Peningkatan diferensiasi integrasi dalam setiap subsistem aksi
  3. Peningkatan kemampuan ketahanan setiap subsistem aksi maupun seluruh system terhadap lingkungan
Dengan demikian dapatlah dikatakan , analisa terhadap perubahan social mencoba untuk mempergunakan sarana analisa teori umum aksi.    



BAB III.
APLIKASI TEORI

~KASUS HUBUNGAN DENGAN TEORI~
TAURAN PELAJAR

 
Dari teori yang telah di jelaskan dapat kami analisis bahwa , berangkat dari asumsi dasar teori bahwa pelajar sebagai masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan, akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga para siswa tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dengan demikian para siswa merupakan kumpulan sistem-sistem sosial yang satu sama lain berhubungan dan saling ketergantungan.
Ini menjelaskan bahwa ketika telah disepakati sebagai seorang peserta didik (siswa) dengan berbagai hal yang terkait seperti mengenai hak dan kewajiban siswa sebagai kaum terdidik ialah merasa bersatu antara satu dengan yang lainnya, saling berhubungan dan saling ketergantungan. Hendaknya dari sudut pandang teori ini mampu mencapai tujuan yakni menciptakan kultur persatuan dan kebersamaan, tidak malah saling menyerang, menyalahkan dls.. Melihat kasus tawuran antar pelajar yang kerap terjadi dapat kami analisis melalui struktur dan tindakan . Berdasarkan teori ini hendaknya terjadi kesadaran antar pelajar karena berdasarkan nilai dan norma untuk mencapai tujuan tertentu. Tawuran sebagai tindakan pada suatu kondisi yang mungkin unsur-unsur yang terdapat diantaranya seperti alat, tujuan, situasi, dan norma ada yang tidak benar (salah). Dalam kejadiannya individu siswa tidak hanya dipengaruhi oleh unsur tersebut namun juga oleh orientasi subjektifny masing-masing.  
Teori fungsional struktural secara ideal menganggap organisasi biologis dan struktural sosial merupakan sebuah asumsi yang sama saling berhubungan dan saling ketergantungan serta terintegrasi berdasarkan, ide, nilai dan norma yang dipengaruhi oleh fungsi dan syarat dalam mencapai tujuan yang disepakati yaitu kesadaran dan kebersamaan dalam masyarakat.
Terjadinya tawuran merupakan sebuah tindakan menyimpang karena individu  maupun kelompok lupa atau tidak menyadari terhadap fungsi yang telah disepakatinya sebagai pelajar dalam mengindahkan nilai, ide dan norma yang disepakati. Hal ini dapat dipengaruhi oleh unsur tindakan yang menyeleweng atau dari diri (orientasi subjektifnya) sendiri.
Solusi terhadap tawuran yang kerap terjadi antar pelajar  

            Tawuran yang kerap terjadi antar pelajar  adalah prilaku social yang menyimpang, adapun solusi yang dapat di berikan antara lain sebagai berikut :
  1. Senantiasa menanamkan sadar sebagai masyarakat yang saling ketergantungan dan butuh akan kebersamaan.
  2. Menanamkan selalu nilai-nilai positif, kesadaran akan norma dan kesepakan sosial (norma sosial).
  3. Menumbuhkembangkan nilai-nilai keagamaan terhadap peserta didik sejak usia dini hingga masyarakat tua, dls.


BAB IV.
KESIMPULAN

Talcott Parsons  dilahirkan di Colorado Springs pada tahun 1902. Pada 1920 Ia masuk ke Amherst College. Setelah itu, ia  melanjutkan  studi pascasarjana di London School of Economics tahun 1924. Pada tahun 1925, Parsons pindah ke Heidelberg, Jerman. Pada tahun 1927, ia menjadi instruktur dalam ekonomi di Amherst.
Sejak tahun 1927 hingga wafat pada tahun 1979 ia berprofesi sebagai pengajar di Harvard, Amerika Serikat. Pada 1937, ia mempublikasikan sebuah buku yang menjadi dasar bagi teori-teorinya, yaitu buku “The Structure of  Social Action”.
Tokoh penggagas dari teori ini adalah   Talcott parsons  , berikutnya ada Robert Bales dan Edward Shils, Turner, Durkheim, Radcliffe  Brown Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme Struktural, yaitu bahwa masyarakat menjadi suatu kesatuan atas dasar kesepakatan dari para anggotanya terhadap nilai-nilai tertentu yang mampu mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dengan demikian masyarakat adalah merupakan. kumpulan sistem-sistem sosial yang satu sama lain berhubungan dan saling memiliki ketergantungan.
Adapun kasus yang terkait dalam teori ini adalah kasus tentang tawuran antar pelajar, dimana pelajar ini merupakan masyarakat. Terjadinya tawuran merupakan sebuah tindakan menyimpang karena individu  maupun kelompok lupa atau tidak menyadari terhadap fungsi yang telah disepakatinya sebagai pelajar dalam mengindahkan nilai, ide dan norma yang disepakati. Hal ini dapat dipengaruhi oleh unsur tindakan yang menyeleweng atau dari diri (orientasi subjektifnya) sendiri. Adapun solusi yang dapat diberikan antara lain :
  1. Senantiasa menanamkan sadar sebagai masyarakat yang saling ketergantungan dan butuh akan kebersamaan.
  2. Menanamkan selalu nilai-nilai positif, kesadaran akan norma dan kesepakan sosial (norma sosial).
  3. Menumbuhkembangkan nilai-nilai keagamaan terhadap peserta didik sejak usia dini hingga masyarakat tua, dls.


REFERENSI
Soerjono soekanto, Mengenal Tujuh Tokoh Sosiologi, RajaGrafindo persada, Jakarta.
Racmad K. Dwi, 20 Tokoh Teori Sosiologi Modern, hlm. 107-108
http//daninur.blog.fisip.uns.ac.id/.../teori-sosiologi-klasik/











JANGAN LUPA KOMENTARNYA YANG SERU YA SAHABAT....


:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t  

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

SELAMAT DATANG DI BLOG KU SAHABAT

MY FOLLOWERS

KUNJUNGAN SAHABAT

Powered by Blogger.

Translate

INILAH AKU SAHABAT

My photo
Nama lengkap saya adalah PATHURRONI sudah itu aja tak lebih tak kurang. Saya berasal dari Kecamatan Pringgabaya di Lombok Timur

Blog Archive

- Copyright © 2025 RONY BLOGSPOTAN -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by DJogzs -