Posted by : Pathurroni
25 Apr 2014
MAKALAH
TEORI-TEORI
SOSIAL
“TEORI
AKSI , TALCOTT PARSON”
OLEH :
KELOMPOK
I
AHMAD
TARMIZI ( E1B113004)
BUNGA
QURRATUL AINI ( E1B113018)
LENI
MARIANTI ( E1B113040)
MELINDA
PURNAMA SARI ( E1B113044)
JURUSAN
: P.IPS
PROG.
STUDI : PPKn. REG. SORE SEMESTER II b
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MATARAM
2014/2015
KATA
PENGANTAR
Puji
dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,karena berkat
rahmat-Nya lah kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Terima kasih kami
haturkan kepada bapak dosen pembimbing
mata kuliah Teori- Teori Sosial , karena berkat bimbingan dari beliau lah kami
dapat menyusun makalah ini sebagaimana mestinya.
Dalam makalah ini kami membahas
mengenai Teori Aksi Talcott Parson . kami
selaku penulis mohon maaf apabila didalam makalh ini terdapat banyak
kesalahan.Baik kesalahan dalam penulisan kata maupun kesalahan dalam struktur
penulisan ,karena kami juga masih dalam proses belajar.Semoga makalah ini dapat
bermanfaat untuk memperdalam pengetahuan bagi kita semua,khususnya bagi para pembaca
makalah ini.
Mataram, 25 April 2014
Penulis
Mataram, 25 April 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR i
DAFTAR
ISI ii
BAB I.
Pendahuluan 1
A.
Historisasi teori 1
B.
Tokoh-tokoh penggagas 2
BAB II.
Asumsi-asumsi dasar teori 3
A.
Pandangan mengenai
organisasi social 3
B.
System-sistem Aksi 3
C.
Pengembangan system
syarat 7
D.
Hirarkhi informasional
pengendalian 8
E.
Perubahan sosial 9
BAB IV.
Aplikasi Teori 10
BAB V. Kesimpulan 11
REFERENCE 12
BAB I.
PENDAHULUAN
A. Historisasi Teori aksi
Talcott Parsons dilahirkan di
Colorado Springs pada tahun 1902. Pada 1920 Ia masuk ke Amherst College.
Setelah itu, ia melanjutkan studi pascasarjana di London School of
Economics tahun 1924. Pada tahun 1925, Parsons pindah ke Heidelberg, Jerman.
Pada tahun 1927, ia menjadi instruktur dalam ekonomi di Amherst. Sejak tahun
1927 hingga wafat pada tahun 1979 ia berprofesi sebagai pengajar di Harvard,
Amerika Serikat. Pada 1937, ia mempublikasikan sebuah buku yang menjadi dasar
bagi teori-teorinya, yaitu buku “The Structure of Social Action”. Dalam mengulas peranan parsons pada
pembentukan teori sosiologi , senantiasa harus diperhitungkan hubungan antara
pandangan awalnya mengenai gejala social dengan strategi yang diajukannya untuk
menyusun konsep dari pandangannya itu. Dari hasil hubungan terssebut muncul dan
berkembang suatu teori umum mengenai aksi (general theory of action) , yang tidak terpisahkan dari dasar-dasar
analitis yang diuraikan dalam The Structure of Social Action.
Kesinambungan mengembangkan teori aksi tersebut , dapat disebut sebagai cirri
utama pandangan parsons.
Dalam The
Structure of Social Action parsons mengembangkan realisme analitis untuk
menyusun teori sosiologi . teori dalam sosiologi harus menggunakan sejumlah
konsep penting yang terbatas yang secara proporsional mencakup aspek-aspek
dunia eksternal yang obyektif. Konsep- konsep itu tidaklah sama dengan gejala
konkrit, akan tetapi sama dengan unsure-unsurnya yang secara analitis dapat dipisahkan
dari unsur-unsur lainnya ( Talcott parsons 1937:730 )
Talcott Parsons melahirkan teori
fungsional tentang perubahan. Dalam teorinya, Parsons menganalogikan perubahan
sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada mahkluk hidup.
Komponen utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi. Parsons
berpendapat bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang
berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi
masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat berubah, umumnya masyarakat
tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi
permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan Parsons termasuk dalam golongan yang
memandang optimis sebuah proses perubahan.
B.
Tokoh- tokoh penggagas
Tokoh penggagas dari teori ini adalah Talcott parsons yang dilahirkan di Colorado Springs pada tahun 1902, berikutnya
ada Robert Bales dan Edward Shils, Turner, Durkheim, Radcliffe Brown
BAB II.
ASUMSI-ASUMSI DASAR TEORI
A.
Pandangan mengenai organisasi social
strategi
parsons untuk menyusun teori , berpegang teguh pada suatu posisi ontologis yang
jelas, yaitu keadaan social memperlihatkan cirri-ciri secara sistematis yang
harus dicakup oleh suatu pengaturan konsep-konsep abstrak secara paralel. Hal
yang lebih menonjol lagi adalh asumsi-asumsi mengenai hakikat dunia social yang
voluntaristik. Teori
aksi voluntaristik menyajikan suatu sintesa asumsi-asumsi bermanfaat dan
konsep- konsep utilitarisme, positivisme, maupun idealisme bagi parsons. Hal
yang penting adalah , parsons berhasil memilih berbagai konsep dari ketiga
aliran tersebut yang kemudian dijadikan teori voluntaristik dari aksi (
voluntaristic theory of action ). Hal ini merupakan titik awal , sesuai dengan
strateginya , untuk mengkonstruksikan teori fungsional dari organisasi social .
oleh karena itu voluntaristik mencakup unsur-unsur dasar sebagai berikut :
- Pelaku yang merupakan pribadi
individual
- Pelaku mencari tujuan-tujuan
yang akan dicapai
- Pelaku mempunyai cara-cara untuk
mencapai tujuan
- Pelaku dihadapkan pada berbagai
kondisi situasional
- Pelaku dikuasai oleh nilai-
nilai, kaidah- kaidah, dan gagasan-gagasan lain yang mempengaruhi
penetapan tujuan dan pemilihan cara untuk mencapai tujuan
- Aksi mencakup pengambilan keputusan
secara subyektif oleh pelaku untuk memilih cara mencapai tujuan , yang
dibatasi oleh berbagi gagasan dan kondisi situasional.
Proses yang tergambar tersebut seringkali disebut unit aksi , dengan aksi social yang
menyangkut perbuatan yang dilakukan oleh satu atau beberapa pelaku.
B. System-sistem Aksi
Peralihan dari analisa unit-unit
aksi ke sistem-sistem aksi agaknya terjadi melalui berbagai kegiatan konseptual
, sebagai berikut :
- Unit-unit aksi tidak terjadi
dalam kehampaan social
- Unit-unit aksi berlangsung
dalam suatu konteks social , yakni pada saat pelaku mempunyai kedudukan
dan secara normatif menetapkan prilaku peranan yang diharapkan
- Kedudukan dan peranan
senantiasa berkaitan dlam berbagai tipe sistem-sistem
- Dengan demikian unit-unit aksi
harus dipandang dari perspektif system-sistem interaksi dimana aksi
dilihat sebagai pola penetapan peranan oleh para pelaku
- System-sistem interaksi
tersebut terdiri dari para pelaku yang masing-masing mempunyai kedudukan
dan penetapan peranan yang diharapkan secara normative dipandang membentuk
suatu system social.
Walaupun demikian , struktur aksi
tidak semata-mata mencakup prilaku yang diharapkan secara normative .
pertama-tama , aksi mencakup pengambilan keputusan secara individual untuk
mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kedua, nilai dan gagasan lainnya membatasi
ruang lingkup pengambilan keputusasaan yang dibuat pelaku untuk mencapai tujuan. Ketiga kondisi-kondisi
situasional, seperti keturunan dan ciri-ciri lingkungan fisik merupakan kendala
bagi aksi.
Sebagai sosiolog Parsons mengakui
bahwa pusat perhatiannya pada teori mencakup analisis system social. Empatbelas
tahun setelah terbit The Structure Of
Social Action, Parsons menulis dan
menerbitkan The Social System. Dalam buku itu Parsons menyajikan perbedaan-perbedaan
analitis antara system-sistem social dan kepribadian maupun pols-pola
kebudayaan.
Dalam mencakup cirri-ciri
kebudayaannya, masyarakat dan kepribadian secara sistematis konseptual, parsons
tidak membuang waktu dengan menyajikan pyrasarat fungsional unsur-unsur dasar
aksi. Prasyarat itu tidak hanya berkaitan dengan masalah-masalah internal unsur-unsur
aksi, akan tetapi juga mengenai artikulasi satu dengan lainnya.
Dengan mengikuti paham Durkhem dan
Radcliffe Brown, dia memandang integrasi didalam dan antara dua system aksi serta pola pola
kebudayaan sebagai prasyarat untuk dapat bertahan.oleh karena system social
menjadi pusat perhatian Parson, dia menelaah masalah integrasi dalam system
social itu sendiri dan antara sistem sosial dengan pola-pola kebudayaan di satu
pihak, dan antara system social dengan system keperibadian, di lain pihak.
Hal yang penting dari konseptuallisasi
system social adalah konsep pelembagaan atau istitusionalisasi, yang mengacu
pada pola intraksi yang relatip stabil antara pelaku pelaku dalam kedudukan
masing masing. Pola-pola demikian diatur secara normative dan dipengaruhi oleh
pola pola kebudayaan. Pengaruh nilai-nilai
tersebut mungkin terjadi melalui dua cara, yaitu:
a.
nilai nilai yang mengatur perilaku peranan dapat mencerminkan
nilai nilai umum dan kepercayaan dalam kebudayaan
b.
.nilai nilai kebudayaan dan pola pola lainmya mungkin
menjiwai system keperibadian, dan mempengaruhi struktur kebutuhan-kebutuhan
dari system, yang menentukan kehendak pelaku untuk menetapkan peranan peranan
dalam system social.
Parson memandang institusionalisasi
baik sebagai proses maupun struktur.sebagai suatu peruses, institusionalisasi
dapat digolongkan kedalam tipe tipe tertentu dengan cara berikut:
a.
para pelaku dengan beraneka ragam orientasi memasuki situasi
tempat mereka harus berinteraksi.
b.
Cara pelaku berioritas merupakan pencerminan dari struktur
kebutuhannya dan bagaimana struktur kebutuhan itu di ubah oleh penjiwaan pola
pola kebudayaan.
c.
Melalui proses interaksi tertentu,muncullah kaidah-kaidah pada
saat para pelaku saling menyesuaikan orientasi masing masing.
d.
kaidah kaidah itu timbul sebagai suatu cara saling
menyesuaikan diri,dan juga membatasi pola pola kebudayaan umum.
e.
Selanjutnya kaidah-kaidah itu mengatur interaksi yang
terjadi kemudian,sehingga tercipta keadaan stabil.
Apabila interaksi telah melembaga ,
maka dapat dikatakan terdapat suatu system social . suatu system social tidak
harus merupakan mayarakat yang mnyeluruh, namun setiap pola interaksi yang
diorganisasikan baik secara mikro maupun makro, merupakan suatu system social.
Setelah menyusun suatu kerangka
analisa , parsons kembali pada pertanyaan yang diajukannya dalam The Structure
of Social Action, yang menjadi patokan bagi semua formulasi teoritisnya, yaitu
bagaimanakah system-sistem social bertahan? Atau , secara lebih tegas, mengapa
pola-pola interaksi yang telah melembaga dapat bertahan ? maslah itu
menimbulkan pertanyaan mengenai system syarat-syarat , oleh karena parson
mempertanyakan , bagaiman sisem-sistem itu memecahkan problem-problem
integratifnya. Jawaban atas pertanyaan itu adalah dengan jalan mengembangkan
konsep tambahan yang menunjukkan bagaiman system-sistem kepribadian dan
kebudayaan terintegrasi dalm system social , sehingga menjamin kesatuan
normative dan keterikatan para pelaku untuk memetuhi kaidah-kaidah dan
memainkan peranannya.
Mekanisme pengendalian social mencakup
cara cara dalam mana peranan-peranan kedudukan di organisasikan dalam system
system social untuk mengurangi tekanan dan penyimpangan.
Ada bermacam macam mekanisme pengendalian sosial
khusus,seperti umpamanya :
a.
Pelembagaan atau institusionalisasi yang menjernihkan
peranan-peranan yang di harapkan,dan menetralisasikan harapan harapan yang
saling bertentangan.
b.
Sanksi sanksi anatara pribadi yang di hormati para pelaku.
c.
aktivitas aktivitas ritual melalui para aktor menyalurkan
berbagai tekananan dan yang sekaligus memperkuat pola pola kebudayaan yang
dominanan.
d.
.Struktur nilai nilai penyalur kedtegangagan yang memisahkan
potensi untuk menyimpan dengan pola-pola institusional normal.
e.
Struktur-struktur reinintegrasi yang fungsinya mengembalikan
kecendrungan kecendrungan untuk menyimpan kearah yang normal
f.
Pelembagaan kekuatan dan paksaan ke dalam sector-sector
tertentu system tersebut
- Pengembangan system syarat-syarat
Tidak lama setelah parsons
menerbitkasn The Social System, bersama dengan Robert bales dan Edward Shils
dia menerbitkan Working Papers in Theory of Action (1953). Dalam buku ini ,
konsep-konsep fungsional imperatif mendominasi teori umum aksi. Selam periode
itu dikatakan bahwa system-sistem aksi dikonseptualisasikan sebagai sesuatu
yang mengahadapi 4 masalah ketahanan atau syarat , yaitu Adaptasi, pencapaian
tujuan, Integrasi dan keadaan laten yang sering di singkat AGIL (Adaptation,
Goal attainment, Integration, Latency).
- Adaptasi, sebuah sistem ibarat makhluk
hidup, artinya agar dapat terus berlangsung hidup, sistem harus dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. harus mampu bertahan ketika
situasi eksternal sedang tidak mendukung. Adaptasi berkaitan dengan
masalah mengambil fasilitas yang cukup dari alam sekeliling dan membaginya
melalui system tersebut.
- Goal
(Pencapaian),
sebuah sistem harus memiliki suatu arah yang jelas dapat berusaha mencapai
tujuan utamanya. Dalam syarat ini, sistem harus dapat mengatur, menentukan
dan memiliki sumberdaya untuk
menetapkan dan mencapai tujuan yang bersifat kolektif. Dimana pencapaian
tujuan ini menyangkut masalh penetapan prioritas antara system
tujuan-tujuan dan menggerakkan sumber-sumber daya untuk mencapainya.
- Integrasi, sebuah sistem harus mengatur
hubungan antar bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus dapat
mengelola hubungan antara ketiga fungsi penting lainnya. Integrasi
menunjuk pada masalah koordinasi dan pemeliharaan hubungan-hubungan antara
unit-unit system.
- Latensi, Pemeliharaan pola, sebuah
sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki pola-pola kultural
yang menciptakan dan menopang motivasi.
Dalam The
Social System semua syarat tersebut masih bersifat implisit dan cenderung
dibahas dalam rangka masalah umum integrasi. Namun dalam pembahasan mengenai
integrasi didalam maupun antara system-sistem aksi dalam The Social System,
masalah- masalah untuk mengambil fasilitas (adaptasi), alokasi dan merumuskan
tujuan (pencapaian tujuan), sosialisasi dan pengendalian social (keadaan laten)
sudah nyata. Pengembangan ke 4 syarat itu sebenarnya merupakan pengembangan
lebih lanjut dari apa yang disajikan dalam The Social System.
- Hirarkhi Informasional
pengendalian
Pada akhir
tahun 50 an , parsons mengalihkan perhatiannya pada hubungan timbal balik
antara 4 sistem aksi yang berbeda, yaitu kebudayaan, strukrtur social,
kepribadian, dan organisme. Sebenarnya Analisanya yaitu cenderung kembali pada pola
unit aksi yang dijelaskan dalam The
Structure of Social Action. Akan tetapi sekarang, setiap unsur unit aksi
dianggap sebagai system aksi tersendiri yang masing-masing menghadapi
masalah-masalah fungsional, yaitu adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan
keadaan laten.selanjutnya tekanan analitis beralih ke hubunghan masukan dengan
keluaran antara ke 4 sistem aksi.
Parsons
mulai mempelajari hubungan timbal balik antara ke 4 subsistem, hal yang muncul
adalah suatu hirarki pengendalian-pengendalian informasional ( Talcott parsons
1958: 612-711). Kebudayaan secara informasional membatasi system social,
struktur social mengatur system kepribadian, dan kepribadian mengatur system
organism. Cici-ciri system kepribadian dipandang sebagi sesuatu yang membatasi
proses biokimiawi dalam organisme. Sebaliknya setiap system dalam hirarki
tersebut dipandang memberikan kondisi energik yang diperlukan bagi terjadinya
aksi pada system yang lebih tinggi. System-sistem yang memiliki informasi
terbesar atau yang tarafntya tinggi membatasi penggunaan energy system yamg
lebih rendah , sedangkan system yamg lebih rendah memberikan fasilitas dan
menciptakan kondsi yang diperlukan oleh system yamg lebih tinggi. Hal itu di
beri nama hirarki sibernetis ( cybernetic hierarchy).
Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa menurut parsons hubungan antara unsure-unsur
atau komponen-komponen aksi bersifat informasional. Artinya hubungan-hubungan
tersebut terjadi melalui lambang-lambang . pertukaran informasi atau
pengendalian sibernetis beroperasi melalui 3 cara yaitu :
a.
Proses pertukaran atau pengaruh
timbal balik antara ke 4 subsistem terjadi melalui berbagai tipe media
simbolis, yakni uang, kekuasaan, pengaruh , atau keterikatan
b.
Proses itu juga berlangsung dengan
mempergunakan media simbolisdistingtif. Penentuan media atas dasar syarat
fungsional mempunyai daya mengikat yang sama kuatnyadalam suatu system tertentu
ataupun pada ke 4 nya.
c.
Adaptasi , pencapaian tujuan,
integrasi ,dan keadaan laten menentukan tipe media simbolis yang dipergunakan
dalam hubungan antar subsistem atau system.
- Perubahan Sosial
Proses
kelangsungan informasi dan energy antara berbagai system aksi memberikan
peluang bagi terjadinya perubahan didalam system aksi atau pada hubungan antara
berbagai system aksi tersebut. Saalah satu sumber perubahan itu adalah akses
informasi atau energy. Misalnya , akses motivasi (energy mempunyai akibat bagi
penetapan peranan-peranan , struktur normative, dan orientasi nilai
kebudayaan). Sumber lain adalah kurangnya informasi atau energy, yang
menyebabkan terjadinya penyesuaian kembali baik secara eksternal maupuin
internal. Untuk menjelaskan konsep perubahan parsons mempergunakan kerangka
aksi untuk menganalisa evolusi social berbagai masyarakat. Dengan mengambil
kerangka fikiran Spencer dan Durkheim, proses menyatakan bahwa proses evolusi
memperlihatkan unsur-unsur , sebagai berikut :
a.
Meningkatnya diferensiasi
unit-unit system menjadi pola-pola interdependensi fungsional
b.
Pembentukan prinsip-prinsip dan
mekanisme baru integrasi untuk mengadakan diferensiasi system-sistem
c.
Kemampuan bertahan yang meningkat
dari system-sistem dalm hubungannya dengan lingkungan
Dari sudut pandangan atau
perspektif teori aksi, evolusi mencakup hal-hal
sebagai berikut :
- Peningkatan
diferensiasi sistemp-sistem kepribadian, social, kebudayaan dan organismik
- Peningkatan
diferensiasi integrasi dalam setiap subsistem aksi
- Peningkatan
kemampuan ketahanan setiap subsistem aksi maupun seluruh system terhadap
lingkungan
Dengan
demikian dapatlah dikatakan , analisa terhadap perubahan social mencoba untuk
mempergunakan sarana analisa teori umum aksi.
BAB
III.
APLIKASI
TEORI
~KASUS
HUBUNGAN DENGAN TEORI~
TAURAN PELAJAR
TAURAN PELAJAR

Dari
teori yang telah di jelaskan dapat kami analisis bahwa , berangkat dari asumsi
dasar teori bahwa pelajar
sebagai masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan, akan nilai-nilai
kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan
sehingga para siswa tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara
fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dengan demikian para siswa merupakan kumpulan sistem-sistem
sosial yang satu sama lain berhubungan dan saling ketergantungan.
Ini menjelaskan
bahwa ketika telah disepakati sebagai seorang peserta didik (siswa) dengan
berbagai hal yang terkait seperti mengenai hak dan kewajiban siswa sebagai kaum
terdidik ialah merasa bersatu antara satu dengan yang lainnya, saling
berhubungan dan saling ketergantungan. Hendaknya dari sudut pandang teori ini
mampu mencapai tujuan yakni menciptakan kultur persatuan dan kebersamaan, tidak
malah saling menyerang, menyalahkan dls.. Melihat kasus tawuran antar pelajar
yang kerap terjadi dapat kami analisis melalui struktur dan tindakan . Berdasarkan
teori ini hendaknya terjadi kesadaran antar pelajar karena berdasarkan nilai
dan norma untuk mencapai tujuan tertentu. Tawuran sebagai tindakan pada suatu
kondisi yang mungkin unsur-unsur yang terdapat diantaranya
seperti alat, tujuan, situasi, dan norma ada yang tidak
benar (salah). Dalam kejadiannya individu siswa tidak hanya dipengaruhi oleh
unsur tersebut namun juga oleh orientasi subjektifny masing-masing.
Teori
fungsional struktural secara ideal menganggap organisasi biologis dan
struktural sosial merupakan sebuah asumsi yang sama saling berhubungan dan
saling ketergantungan serta terintegrasi berdasarkan, ide, nilai dan norma yang
dipengaruhi oleh fungsi dan syarat dalam mencapai tujuan yang disepakati yaitu
kesadaran dan kebersamaan dalam masyarakat.
Terjadinya
tawuran merupakan sebuah tindakan menyimpang karena individu maupun
kelompok lupa atau tidak menyadari terhadap fungsi yang telah disepakatinya
sebagai pelajar dalam mengindahkan nilai, ide dan norma yang disepakati.
Hal ini dapat dipengaruhi oleh unsur tindakan yang menyeleweng atau dari diri
(orientasi subjektifnya) sendiri.
Solusi
terhadap tawuran yang kerap terjadi antar pelajar
Tawuran yang kerap terjadi antar
pelajar adalah prilaku social yang
menyimpang, adapun solusi yang dapat di berikan antara lain sebagai berikut :
- Senantiasa menanamkan sadar sebagai masyarakat yang
saling ketergantungan dan butuh akan kebersamaan.
- Menanamkan
selalu nilai-nilai positif, kesadaran akan norma dan kesepakan sosial
(norma sosial).
- Menumbuhkembangkan nilai-nilai keagamaan terhadap
peserta didik sejak usia dini hingga masyarakat tua, dls.
BAB
IV.
KESIMPULAN
Talcott
Parsons dilahirkan di Colorado Springs pada tahun 1902. Pada 1920 Ia masuk
ke Amherst College. Setelah itu, ia melanjutkan studi pascasarjana
di London School of Economics tahun 1924. Pada tahun 1925, Parsons pindah ke
Heidelberg, Jerman. Pada tahun 1927, ia menjadi instruktur dalam ekonomi di
Amherst.
Sejak tahun 1927 hingga wafat pada
tahun 1979 ia berprofesi sebagai pengajar di Harvard, Amerika Serikat. Pada
1937, ia mempublikasikan sebuah buku yang menjadi dasar bagi teori-teorinya,
yaitu buku “The Structure of Social Action”.
Tokoh penggagas dari teori ini adalah Talcott parsons ,
berikutnya ada Robert Bales dan Edward Shils, Turner, Durkheim, Radcliffe Brown Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme
Struktural, yaitu bahwa masyarakat menjadi suatu kesatuan atas dasar
kesepakatan dari para anggotanya terhadap nilai-nilai tertentu yang mampu
mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai
suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan.
Dengan demikian masyarakat adalah merupakan. kumpulan sistem-sistem sosial yang
satu sama lain berhubungan dan saling memiliki ketergantungan.
Adapun kasus yang
terkait dalam teori ini adalah kasus tentang tawuran antar pelajar, dimana pelajar
ini merupakan masyarakat. Terjadinya tawuran merupakan sebuah
tindakan menyimpang karena individu maupun kelompok lupa atau tidak
menyadari terhadap fungsi yang telah disepakatinya sebagai pelajar dalam
mengindahkan nilai, ide dan norma yang disepakati. Hal ini dapat
dipengaruhi oleh unsur tindakan yang menyeleweng atau dari diri (orientasi subjektifnya)
sendiri. Adapun
solusi yang dapat diberikan antara lain :
- Senantiasa menanamkan sadar sebagai masyarakat yang
saling ketergantungan dan butuh akan kebersamaan.
- Menanamkan
selalu nilai-nilai positif, kesadaran akan norma dan kesepakan sosial (norma
sosial).
- Menumbuhkembangkan nilai-nilai keagamaan terhadap
peserta didik sejak usia dini hingga masyarakat tua, dls.
REFERENSI
Soerjono soekanto, Mengenal
Tujuh Tokoh Sosiologi, RajaGrafindo persada, Jakarta.
Racmad
K. Dwi, 20 Tokoh Teori Sosiologi Modern, hlm. 107-108
http//daninur.blog.fisip.uns.ac.id/.../teori-sosiologi-klasik/
JANGAN LUPA KOMENTARNYA YANG SERU YA SAHABAT....